Part 2: Teman Sekamar yang Tak Pernah Terlihat

0

 


Setelah aku tahu cerita tentang kamar nomor 7, hidupku di kost gak langsung berubah jadi horor besar-besaran.
Justru sebaliknya.
Semuanya terasa… terlalu normal.


Aku masih bangun pagi, berangkat sekolah, pulang sore.
Lampu kamar gak sering berkedip.
Gak ada suara langkah kaki tengah malam.
Gak ada mimpi aneh.


Tapi ada satu hal yang berubah.

Aku mulai ngerasa ditemani.


Bukan ditemani secara nyata.
Lebih ke perasaan…
kayak ada seseorang di kamar yang sama, tapi gak ganggu apa-apa.


Misalnya, setiap aku pulang sekolah sore hari.
Kunci pintu selalu terasa hangat, padahal aku yakin gak ada orang yang masuk.
Atau tas sekolahku yang kadang pindah posisi sedikit—bukan hilang, cuma bergeser beberapa senti.


Hal-hal kecil.
Sepele.
Tapi konsisten.


Suatu malam, aku belajar sampai larut.
Lampu kamar nyala, jendela tertutup.
Jam dinding nunjuk angka hampir jam dua belas.


Tanpa sadar aku ngomong sendiri,
“Capek banget hari ini…”


Dan saat itu juga,
angin pelan berhembus dari arah lemari.
Padahal jendelanya rapat.


Bukan dingin.
Bukan kencang.
Cuma seperti… napas pelan.


Aku berhenti nulis.
Diam beberapa detik.
Lalu lanjut lagi belajar, pura-pura gak ngerasa apa-apa.


Sejak malam itu, aku mulai sering ngobrol sendiri.
Bukan karena gila.
Tapi karena rasanya…
kalau aku ngomong, kamar ini jadi lebih tenang.


Beberapa minggu kemudian, temanku main ke kost.
Dia duduk di kasur sambil main HP.
Tiba-tiba dia nanya,
“Lu sering belajar bareng siapa?”


Aku bingung.
“Maksud lu?”


Dia nunjuk kursi di pojok kamar.
“Barusan gue kayak lihat ada orang duduk di situ.
Cuma bayangan sih.
Kirain temen lu.”


Aku ketawa kecil, berusaha santai.
“Tuaaan, jangan ngaco.”


Dia gak ikut ketawa.
Mukanya malah serius.
“Gue gak bercanda.”


Malam itu, setelah temanku pulang, aku duduk lama di kasur.
Ngeliatin kursi kosong itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku ngomong pelan,
“Kalau kamu di sini… gak apa-apa.
Asal jangan bikin aku takut.”


Gak ada jawaban.
Tapi lampu kamar yang tadinya redup…
jadi stabil.


Hal terakhir yang bikin aku yakin, terjadi di hari Minggu.


Aku bersih-bersih kamar.
Pas nyapu bawah kasur, aku nemuin buku catatan lama.
Isinya tulisan tangan rapi.
Tentang sekolah.
Tentang capek belajar.
Tentang pengen punya temen ngobrol.


Di halaman terakhir, cuma ada satu kalimat:

“Aku gak suka sendirian.”

Aku nutup buku itu pelan.
Tarik napas panjang.
Dan tanpa sadar, aku senyum kecil.


Sejak hari itu, aku gak pernah lagi nemuin rambut di lantai.
Bayangan di depan pintu juga gak pernah muncul.
Lampu kamar gak pernah nyala sendiri lagi.


Kost nomor 7 jadi…
tenang.


Aku gak tahu apakah dia benar-benar “pergi”.
Atau masih di sini, cuma gak ingin menakuti.


Yang jelas, aku belajar satu hal:
kadang, yang tinggal bersama kita bukan ingin mengganggu.
Mereka cuma ingin diakui keberadaannya.


Dan selama aku tinggal di kamar nomor 7,

aku gak pernah lagi merasa sendirian.

  • Lebih baru

    Part 2: Teman Sekamar yang Tak Pernah Terlihat

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default