Waktu pertama kali pindah ke kost dekat sekolah, aku ngerasa semuanya biasa aja.
Kost itu cuma dua lantai, catnya udah kusam, tapi bersih. Jaraknya cuma lima menit jalan kaki dari sekolah, cocok buat siswa kayak aku yang males bangun pagi.
Kamar yang kutempati nomor 7.
Ukurannya kecil, tapi cukup. Ada kasur, lemari kayu tua, meja belajar, dan satu lampu gantung yang cahayanya agak kekuningan.
Hari-hari pertama aku tinggal di situ tenang. Gak ada suara aneh, gak ada bau aneh, gak ada mimpi buruk.
Semuanya normal.
Sampai suatu hari aku jatuh sakit.
Badanku panas tinggi, kepala pusing, dan ibu kost nyaranin aku pulang ke rumah orang tua dulu. Jadi aku balik kampung selama hampir seminggu.
Kamar kostku kosong. Lampu mati. Pintu terkunci.
Atau… setidaknya itu yang kupikir.
Beberapa hari kemudian, pas aku udah masuk sekolah lagi, temanku cerita sesuatu yang bikin aku bingung.
Katanya, waktu aku sakit, dia sempat ke kost buat jengukin aku.
Dari luar, dia lihat lampu kamar nomor 7 menyala.
Dia mikir aku udah balik diam-diam.
Dia manggil namaku dari luar pintu.
Sekali.
Dua kali.
Gak ada jawaban.
Terus, katanya…
pas dia mau manggil lagi, lampu kamar itu langsung mati.
Gelap.
Mendadak.
Dia mikir aku gak mau diganggu, jadi dia pergi tanpa ngetok pintu.
Dan dia baru cerita ini ke aku setelah aku balik sekolah.
Aku langsung merinding.
Karena aku yakin…
selama aku sakit, aku sama sekali belum balik ke kost.
Sejak saat itu, hal-hal kecil mulai kejadian.
Suatu malam, aku lagi tiduran sambil main HP. Lampu kamar mati, cuma cahaya layar yang nyala.
Dari sudut mataku, aku lihat bayangan hitam lewat di bawah pintu.
Jelas banget.
Seperti seseorang berdiri tepat di depan kamarku.
Bayangan itu gak bergerak.
Diam.
Seolah… memperhatikan aku dari balik pintu.
Jantungku langsung berdetak kencang.
Tapi entah kenapa, aku gak berani nengok.
Aku pura-pura gak lihat apa-apa.
Aku balik badan, nutup mata, dan bilang ke diri sendiri: cuekin aja.
Dan anehnya…
setelah itu, bayangan itu gak ada lagi.
Puncaknya terjadi waktu aku lagi istirahat siang.
Aku baru pulang sekolah, capek, dan langsung rebahan.
Pas bangun, aku lihat sesuatu di lantai.
Rambut.
Panjang.
Hitam.
Lebih panjang dari rambutku.
Aku berdiri lama, nunduk, mikir.
Ini rambut siapa?
Aku jarang nerima tamu di kamar.
Teman-temanku kalau datang juga berhijab.
Gak mungkin rambutku.
Dan gak mungkin juga rambut ibu kost.
Di situlah aku mulai ngerasa…
aku gak sendirian di kamar ini.
Akhirnya aku memberanikan diri nanya ke ibu kost.
Awalnya beliau diem.
Lama.
Terus bilang pelan,
“Kamar nomor 7 itu… dulu ditempati siswa juga.”
Jantungku langsung turun.
Beliau lanjut,
“Dia sekolah jurusan perawat. Orangnya pendiam.
Dulu… dia bunuh diri di kamar itu.”
Kepalaku langsung kosong.
Malamnya, dengan tangan gemetar, aku buka lemari kayu tua di kamarku.
Di bagian belakangnya…
aku nemuin barang-barang perawat.
Sarung tangan medis.
Buku catatan praktik.
Dan sebuah foto usang seorang siswa berseragam perawat, tersenyum tipis.
Aku duduk di lantai, gak bisa ngomong apa-apa.
Sejak saat itu, aku mulai paham.
Lampu yang menyala waktu aku gak ada.
Bayangan di depan pintu.
Rambut di lantai kamar.
Mungkin…
dia cuma mau ditemani.
Atau sekadar memastikan kamarnya sekarang dihuni orang yang baik.
Aku gak lagi takut.
Aku belajar berdamai.
Setiap masuk kamar, aku selalu bilang pelan,
“Permisi ya… aku pulang.”
Dan anehnya, sejak itu…
kamar kost nomor 7 jadi tenang.
Cerita ini sekarang cuma jadi cerita.
Tapi sampai hari ini,
kalau malam sunyi dan lampu kamarku tiba-tiba berkedip…
aku tahu,
aku masih gak sendirian.
