Siapa sih yang nggak punya second account hari ini? Rasanya hampir tiap anak Gen Z minimal punya satu akun cadangan. Yang satu buat “citra”, yang satu lagi katanya buat “jadi diri sendiri”. Katanya ya. Tapi kalau dipikir-pikir… sebenernya second account itu buat apa, sih?
Awalnya mungkin niatnya polos. Capek jaga image di akun utama, capek mikirin feed harus rapi, caption harus aman, komen harus sopan. Akhirnya lahirlah second account—biasanya namanya aneh, fotonya blur, bio-nya sok misterius. Di sinilah mereka ngerasa bebas. Mau curhat, mau galau, mau ngepost setengah sadar jam 2 pagi, semua dilakuin di sana.
Masalahnya, banyak yang nganggep second account itu ruang privat. Katanya, “ini kan cuma mutual deket”. Lah… sejak kapan media sosial jadi ruang privat? Mau akunnya private, mutual-nya dikit, atau isinya cuma “temen percaya”, tetap aja itu media sosial. Selama kamu nge-post sesuatu, artinya kamu siap itu dilihat orang lain. Titik.
Lucunya lagi, isi second account sering jauh lebih liar dari akun utama. Screenshot chat, sindiran halus tapi niat, curhat nyebut ciri-ciri orang (yang semua orang juga tau itu siapa), sampai aib sendiri yang diumbar tanpa mikir besok bakal nyesel atau nggak. Tapi pas ada yang nyebarin? Langsung panik. “Kok bisa keluar?” Ya gimana ya… kamu sendiri yang upload.
Banyak yang bilang second account itu soal kejujuran. Tapi jujur ke siapa? Ke diri sendiri atau ke dunia maya yang kamu harapin ngasih validasi? Karena faktanya, tetap aja nunggu views, nunggu reaction, nunggu DM masuk. Kalau nggak ada yang merhatiin, biasanya langsung dihapus. Jadi sebenernya bukan soal privasi—tapi soal ingin didengar tanpa mau bertanggung jawab.
Yang perlu diinget satu: internet itu punya ingatan panjang. Sekali kamu taruh sesuatu di sana, itu bukan cuma milik kamu lagi. Mau second account, third account, atau akun alter paling rahasia sekalipun—kalau isinya kamu sebar ke dunia maya, ya siap-siap itu jadi konsumsi publik.
Punya second account sah-sah aja. Manusia juga butuh ruang. Tapi jangan pura-pura kaget kalau ruang itu ternyata nggak seaman yang kamu kira. Karena pada akhirnya, yang namanya media sosial tetaplah media sosial. Bukan buku diary yang bisa dikunci dan disimpan di bawah kasur.
