Ada satu penyakit zaman sekarang yang nggak kelihatan di hasil lab, tapi efeknya bisa bikin dompet tipis, mental capek, dan identitas diri blur. Namanya FOMO. Fear of Missing Out. Takut ketinggalan. Takut nggak ikut. Takut nggak dianggap update.
Lucunya, banyak anak muda—termasuk siswa—yang sebenernya nggak tahu dia lagi FOMO. Taunya cuma, “Kok semua pada punya?” atau “Kok aku doang yang belum?” Padahal sebelum itu, dia nggak pernah kepikiran pengin punya atau ngelakuin hal tersebut.
Contoh paling gampang: sepatu lagi viral, padahal sepatunya nggak nyaman. Nongkrong di tempat hits, padahal nggak betah. Ikut challenge, padahal nggak ngerti tujuannya. Intinya bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan momen yang sebenernya… ya nggak penting juga buat hidupnya.
FOMO itu sebenernya wajar. Manusia memang makhluk sosial. Kita pengin diterima, pengin nyambung, pengin nggak ketinggalan obrolan. Masalahnya mulai muncul waktu FOMO berubah jadi kebiasaan ikut-ikutan tanpa mikir. Semua diukur dari “orang lain lagi ngapain”, bukan “aku sebenernya butuh apa”.
Ada FOMO yang masih sehat. Misalnya, kamu ikut lomba karena termotivasi lihat teman berprestasi. Atau kamu belajar skill baru karena lihat peluangnya besar. Itu FOMO versi dewasa: lihat tren, dipilah, diambil manfaatnya.
Tapi ada juga FOMO yang nggak sehat. Yang bikin kamu maksa beli sesuatu padahal uang nggak ada. Maksa eksis padahal capek. Maksa ikut arus padahal hati nolak. Ujung-ujungnya bukan bahagia, malah insecure karena merasa hidup orang lain selalu lebih seru.
Ironisnya, media sosial jadi bahan bakar utama FOMO. Timeline isinya pencapaian orang, senyum orang, highlight orang. Kita lupa satu hal penting: yang diposting itu versi terbaik, bukan versi lengkap. Tapi tetap aja, kita bandingin hidup penuh kita dengan potongan hidup orang lain.
Anak muda hari ini sering dikira males, padahal banyak yang capek secara mental karena ngerasa harus “ngikutin semuanya”. Harus update. Harus relevan. Harus kelihatan seru. Padahal nggak semua tren harus diikuti, dan nggak semua momen harus kamu punya.
Kadang, dewasa itu bukan soal paling cepat ikut tren, tapi paling berani bilang, “Oh ini bukan buat aku.” Nggak semua yang viral cocok sama hidupmu. Nggak semua yang rame harus kamu datangi. Dan nggak semua yang orang lain punya, harus kamu kejar.
FOMO nggak salah. Yang bahaya itu kalau kamu kehilangan kendali atas pilihanmu sendiri. Hidup bukan lomba siapa paling update, tapi siapa yang paling ngerti arah hidupnya.
Jadi sebelum ikut sesuatu, coba tanya pelan-pelan ke diri sendiri:
“Aku pengin, atau cuma takut ketinggalan?”
Kalau jawabannya yang kedua, mungkin bukan momen yang kamu butuhkan—cuma ego yang lagi minta divalidasi.
Dan tenang aja, ketinggalan satu tren nggak akan bikin kamu gagal jadi siapa-siapa.
