Siapa sangka, Jumat yang harusnya penuh aroma gorengan dan suara plastik es teh, justru dimulai dengan kenyataan pahit: kantin tutup dari pagi.
Bukan tutup pas bel, bukan juga kehabisan stok mendadak. Dari awal siswa datang, kantin memang sudah gelap. Meja kosong, etalase sepi, dan harapan beli minuman dingin langsung runtuh sebelum sempat baris. Padahal hari ini bukan hari belajar biasa. Jumat ini diisi lomba nyanyi Mars Putra Bangsa dan Fun Day. Artinya? Panas, capek, teriak-teriak, dan… haus.
Reaksi siswa pun bisa ditebak. Ada yang bengong di depan kantin sambil mikir, “Ini serius tutup?” Ada yang langsung buka HP, cek grup, nanya temen: jajan di mana, pesan apa, siapa yang mau patungan. Untungnya, sekolah membolehkan siswa jajan di luar atau pesan online. Jadi walaupun kantin libur, perut tetap harus jalan.
Tapi menariknya, di balik kebingungan itu, muncul satu hal yang diam-diam seru. Situasi kayak gini justru jadi panggung kecil buat siswa yang punya jiwa wirausaha. Ada yang langsung titip jual minuman dari luar, ada yang buka PO dadakan, ada juga yang mendadak jadi “agen es teh” keliling temen sendiri. Kantin tutup, tapi otak bisnis malah kebuka.
Momen ini kayak ngasih pelajaran halus: ketika fasilitas gak ada, kreativitas biasanya muncul. Walaupun tetap, jujur aja, panas-panas lomba tanpa minuman segar itu rasanya kayak nyanyi sambil nahan haus—niat ada, tenggorokan protes.
Semoga ke depan, kalau Jumat diisi kegiatan besar, urusan logistik perut juga ikut dipikirin. Karena siswa bisa saja disiplin, semangat, dan kompak, tapi kalau haus? Fokusnya bisa pindah ke satu hal: “Habis ini jajan apa, ya?”
