Kalau biasanya anak EMC sibuk bikin konten sekolah, kali ini mereka naik level sedikit lebih sinematik. Diwakili oleh Ibnu, Kaisar, Erik, dan Rosma, tim EMC SMK Putra Bangsa ikut Workshop Pembuatan Film Pendek yang digelar tanggal 18–20 Mei di Perpustakaan Daerah Kota Bontang.
Pesertanya bukan cuma dari satu sekolah. Workshop ini diikuti oleh siswa SMA dan SMK se-Kota Bontang. Jadi vibes-nya langsung terasa: banyak kamera, banyak ide, banyak anak kreatif yang mukanya kelihatan capek tapi matanya masih semangat.
Kegiatan ini diadakan oleh Sineas Besai Berinta dan didukung oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Bontang. Bahkan acara pembukaannya juga nggak main-main karena langsung dibuka dan diresmikan oleh Neni Moerniaeni. Jadi dari awal aja auranya udah terasa resmi tapi tetap seru.
Hari pertama diisi dengan materi yang cukup padat, tapi justru ini bagian yang paling penting. Peserta diajak masuk ke dunia perfilman dari nol sampai mulai paham kenapa bikin film itu nggak sekadar pencet record lalu upload.
Mulai dari penulisan naskah, penyutradaraan, pengambilan gambar, sampai editing, semuanya dibahas. Pematerinya juga datang dari dalam dan luar kota, jadi sudut pandangnya beragam. Ada yang ngomongin teknis, ada yang cerita pengalaman di lapangan, ada juga yang bikin peserta sadar kalau bikin film itu ternyata lebih ribet daripada bikin status galau.
Masuk hari kedua, suasana mulai berubah jadi mode survival kreatif.
Peserta dibagi menjadi beberapa tim campuran dengan sekolah lain dan langsung dikasih tantangan:
buat film pendek dalam waktu satu hari.
Iya, satu hari.
Belum selesai panik, mereka juga dibebaskan menentukan konsep dan lokasi syuting sendiri. Jadilah seluruh peserta menyebar ke berbagai sudut kota. Ada yang syuting di Bontang Kuala, ada yang ke Mangrove, ada yang pilih Tanjung Limau, sampai Taman Adipura.
Setiap tim langsung bagi tugas. Ada yang jadi sutradara dadakan, ada yang pegang kamera sambil mikir angle, ada yang jadi editor sambil ngeluh laptopnya panas. Pokoknya semua bergerak cepat karena waktu benar-benar mepet.
Dan di titik ini baru terasa:
bikin film itu bukan cuma soal ide keren, tapi juga soal kerja sama dan tahan mental.
Hari ketiga jadi penutup yang paling ditunggu: nonton bareng hasil film semua kelompok. Momen ini campur aduk rasanya. Ada yang bangga lihat hasil akhirnya tayang di layar, ada yang sambil ketawa lihat adegan yang ternyata awkward, ada juga yang diam-diam mikir, “Harusnya tadi scene itu diulang sih…”
Tapi justru di situ serunya.
Workshop ini bukan cuma ngajarin cara bikin film, tapi juga ngajarin proses di baliknya. Tentang kerja tim, manajemen waktu, sampai bagaimana ide yang awalnya cuma ada di kepala bisa berubah jadi tontonan yang punya cerita.
Dan buat EMC, tiga hari ini jelas bukan sekadar ikut acara. Tapi jadi pengalaman yang mungkin bakal kepakai terus, apalagi buat mereka yang memang hidupnya udah dekat sama dunia konten dan visual.
Karena siapa tahu, dari workshop kecil di perpustakaan itu… ada calon sineas besar yang lagi mulai tumbuh pelan-pelan.


