Pawai Obor di Tengah Banjir: Siswa SMK Putra Bangsa Tetap Nyalakan Semangat

0


Tanggal 14 Februari malam, ketika sebagian orang sibuk dengan cokelat dan bunga, Kota Bontang justru sibuk dengan hal yang lebih bercahaya: pawai obor menyambut bulan suci Ramadan. SMK Putra Bangsa pun ikut ambil bagian. Awalnya tercatat sekitar 80 siswa siap meramaikan barisan. Tapi realita di hari H berkata lain.


Bontang saat itu sedang diuji banjir besar di beberapa titik. Jalan tergenang, akses banyak yang dialihkan, dan kondisi kota jelas nggak lagi ideal buat kegiatan luar ruangan. Alhasil, dari 80 yang terdata, hanya sekitar 50 siswa yang benar-benar bisa hadir. Sisanya? Tertahan situasi.


Rute pawai pun ikut kena imbas. Yang semula direncanakan start dari Masjid Al-Hijrah menuju Kantor Wali Kota lama, harus dialihkan lewat Jalan KS Tubun. Tapi plot twist belum selesai. Karena Jalan Ahmad Yani ditutup akibat genangan tinggi, KS Tubun ikut dialihfungsikan sebagai jalur pengalihan. Bingung? Panitia juga.

Akhirnya rute diubah lagi. Start tetap dari Masjid Al-Hijrah, lalu menuju Berbas Pantai, putar balik ke arah Lengkol, dan kembali lagi ke Masjid Al-Hijrah. Muter? Iya. Ribet? Lumayan. Tapi mundur? Nggak sama sekali.


Meski kondisi kota lagi nggak baik-baik saja, suasana malam itu tetap terasa khidmat dan penuh semangat. Barisan dari berbagai instansi dan sekolah tampil maksimal dengan yel-yel terbaik mereka. SMK Putra Bangsa pun nggak mau kalah.


Dengan obor menyala di tangan, barisan siswa SMK PB kompak meneriakkan sholawat yang diiringi tabuhan rebana. Bukan cuma jalan, tapi beneran hidup. Suaranya menggema, obornya menyala, dan langkahnya tetap rapat meski jalanan nggak selalu mulus.

Ada yang capek? Jelas. Namanya juga jalan malam, rute berubah, kondisi nggak biasa. Tapi semangatnya nggak ikut tenggelam. Bahkan ada satu momen ikonik: seorang siswa tetap lanjut jalan meski tinggal pakai satu sandal. Sandal satunya hilang entah di titik mana—mungkin terinjak, mungkin tertinggal. Tapi yang jelas, langkahnya nggak ikut hilang.


Di balik barisan siswa, ada peran guru-guru yang ikut mendampingi. Pak Gazali jadi koordinator yang memastikan barisan tetap tertib dan solid. Pak Atok juga sigap menjaga kerapian dan keamanan barisan SMK Putra Bangsa. Jadi bukan cuma siswa yang jalan, tapi semangat kebersamaannya juga terasa.


Pawai obor malam itu mungkin nggak berjalan sesuai rencana awal. Rute berubah, jumlah peserta berkurang, kota sedang berduka karena banjir. Tapi justru di situ letak maknanya.


Bahwa menyambut Ramadan bukan soal jalur mana yang dilewati, tapi soal cahaya yang tetap dinyalakan—di tangan, dan di hati.


Dan malam itu, meski air sempat menggenangi jalanan Bontang, semangat siswa SMK Putra Bangsa tetap menyala.

  • Lebih baru

    Pawai Obor di Tengah Banjir: Siswa SMK Putra Bangsa Tetap Nyalakan Semangat

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default