Namaku bukan nama sebenarnya.
Anggap saja aku Raka.
Aku siswa di SMK Putra Bangsa, tapi rumahku tidak seperti kebanyakan teman-temanku. Aku tinggal di Loktunggul, wilayah yang cukup jauh dari sekolah. Kalau naik ojek, perjalanan bisa lebih dari satu jam — melewati jalan panjang, kebun, dan beberapa bagian yang sinyalnya bahkan sering hilang.
Hari itu hari Kamis.
Aku sebenarnya bisa pulang lebih cepat, tapi setelah sekolah aku mampir ke rumah temanku di dekat Pasar Rawa Indah untuk kerja kelompok. Kami terlalu fokus mengerjakan tugas sampai gak sadar langit sudah berubah jingga gelap.
Waktu aku pesan ojek, jam hampir menunjukkan setengah enam sore.
Driver ojeknya sempat bilang,
“Loktunggul? Malam ini cepat gelap di sana. Habis hujan soalnya.”
Aku cuma mengangguk.
Sepanjang perjalanan, jalanan makin sepi. Rumah mulai jarang, lampu jalan tidak semuanya menyala. Begitu masuk wilayah kebun, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Helm yang kupakai menahan suara, tapi aku masih bisa mendengar gesekan dedaunan yang tertiup angin.
Anehya, burung-burung sudah tidak terdengar.
Aku sampai di rumah saat cahaya terakhir hampir hilang dari langit.
Rumahku berdiri agak masuk dari jalan tanah, dengan hutan kecil di belakangnya. Siang hari tempat itu terasa biasa saja. Tapi kalau malam, pepohonan berubah seperti bayangan besar yang saling menutup.
Baru saja aku membuka pintu, aku teringat sesuatu.
Pagi tadi ibu bilang mereka akan ke kota untuk menjual hasil kebun, dan mungkin pulang larut.
Artinya…
malam itu aku sendirian.
Aku langsung menyalakan semua lampu. Ruang tengah, dapur, teras. Bukan karena takut — cuma supaya rumah terasa berisi.
Setelah makan seadanya, aku duduk sambil main HP. Tapi sekitar jam sembilan malam, sinyal mendadak hilang. Layar ponsel hanya menampilkan tulisan “tidak ada layanan.”
Hal biasa sebenarnya.
Tapi entah kenapa, malam itu terasa berbeda.
Listrik sempat meredup satu detik.
Hanya satu detik.
Namun cukup membuatku menoleh ke arah jendela.
Di luar… gelap pekat.
Hutan di belakang rumah seperti tidak memiliki dasar.
Awalnya aku mendengar sesuatu dari atas rumah.
Seperti ada yang bergeser pelan di atap.
Aku mencoba berpikir logis — mungkin ranting jatuh, atau kucing lewat.
Tapi beberapa menit kemudian suara itu terdengar lagi.
Bukan di atap.
Melainkan di halaman samping.
Gesek… pelan… seperti sesuatu menyentuh tanah.
Aku berdiri. Napasku tanpa sadar jadi lebih pendek.
Seekor anjing milik tetangga yang jaraknya cukup jauh tiba-tiba menggonggong keras… lalu mendadak diam.
Sunyi yang datang terlalu cepat.
Lalu aku mendengar suara lain.
Bukan langkah.
Bukan hewan.
Lebih seperti… kepakan.
Pelan tapi berat.
Refleks aku menoleh ke arah jendela dapur.
Awalnya tidak ada apa-apa.
Lalu sesuatu melintas cepat.
Cepat sekali sampai aku hampir yakin itu cuma bayangan pohon.
Tapi tubuhku langsung kaku.
Karena bentuknya… tidak seperti burung.
Aku mendekat satu langkah, ragu.
Dan di situlah aku melihatnya.
Sebuah sosok berada sedikit lebih tinggi dari pagar belakang. Rambutnya menjuntai panjang ke bawah. Wajahnya pucat, hampir menyatu dengan gelap malam.
Dia tidak bergerak cepat.
Tidak juga mendekat.
Hanya melayang pelan…
dan menghadap lurus ke arah rumah.
Seolah tahu aku ada di dalam.
Jantungku berdetak keras sampai telingaku berdenging.
Tanpa sadar aku mematikan lampu ruang tengah, berharap dari luar rumah terlihat kosong.
Beberapa detik kemudian, aku memberanikan diri melihat lagi.
Sosok itu sudah tidak ada.
Tapi rasa lega itu tidak bertahan lama.
Dari arah depan rumah terdengar suara lain.
Pelan.
Seperti kain yang terseret di tanah.
Aku menoleh ke jendela ruang tamu.
Di bawah cahaya lampu teras…
ada sesuatu berdiri.
Terbungkus kain putih dari atas sampai bawah.
Diam.
Tidak berjalan.
Tidak mendekat.
Posisinya tepat menghadap jendela.
Tubuhku terasa berat, seolah kakiku menempel ke lantai.
Yang membuatku semakin merinding — sosok itu tidak bergoyang sedikit pun, padahal angin malam cukup terasa.
Aku segera menutup tirai dengan tangan gemetar.
Malam itu aku tidak berani masuk kamar. Aku duduk di sofa dengan lampu menyala sampai akhirnya tertidur karena kelelahan.
Suara motor membangunkanku saat subuh.
Orang tuaku pulang.
Begitu mereka masuk, rasa takut yang kutahan semalaman runtuh begitu saja. Aku ceritakan semuanya.
Ayah diam lama. Wajahnya tidak terlihat terkejut.
Lalu dia berkata pelan,
“Daerah Loktunggul memang masih banyak kebun dan hutan. Kalau malam, jangan sering lihat keluar jendela. Tutup saja tirainya.”
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Sejak malam itu, setiap pulang sekolah aku selalu berusaha tidak kemalaman, apalagi kalau habis dari arah pasar.
Dan satu kebiasaan baruku tidak pernah berubah:
Aku selalu memastikan semua jendela tertutup rapat sebelum gelap.
Karena rumah yang terang di tengah wilayah sunyi…
kadang mengundang sesuatu untuk berhenti.
Bukan untuk mengetuk.
Bukan untuk masuk.
Hanya untuk melihat siapa yang tinggal di dalamnya.
