Akhir-akhir ini, hari-hari di SMK Putra Bangsa rasanya nggak berhenti di kata “ujian selesai”. Karena ternyata, setelah jawaban dikumpulkan dan otak udah diperas habis-habisan, masih ada satu agenda lagi yang menunggu.
Dan lokasinya…
bukan di kelas.
bukan di kantin.
tapi di lapangan basket.
Iya, lapangan yang siangnya panas, sorenya masih panas, dan anginnya cuma numpang lewat.
Begitu jam ujian beres—atau sekitar satu jam sebelum bel pulang berbunyi—siswa dari kelas X sampai XII satu per satu dikumpulkan. Gantian per angkatan. Yang niat pulang cepat harus mengubur mimpi itu dulu. Yang udah lapar diminta tahan. Karena semua punya misi yang sama: latihan Mars SMK Putra Bangsa.
Katanya sih mau ada lomba.
Dan artinya juga jelas: semua wajib hafal.
Bukan cuma bagian “Putra Bangsa jaya…” doang.
Suasana lapangan campur aduk.
Ada yang kelihatan semangat, nyanyi lantang sambil berdiri tegap.
Ada juga yang kelihatan “hadir secara fisik, tapi jiwanya udah duluan pulang”. Mulut gerak dikit, suara entah ke mana.
Panas jadi alasan klasik.
“Males ah, gerah.”
“Tadi ujian capek.”
“Kenapa nggak di kelas aja sih?”
Tapi ya tetap jalan. Karena latihan ini nggak sekadar formalitas.
Apalagi ketika Pak Humam turun langsung.
Bukan tipe latihan yang bisa diselipin pura-pura. Barisan diperhatikan, suara dites, hafalan dicek. Mau ngumpet di belakang? Sama aja, tetap kena radar.
Belum selesai di Mars, kegiatan lanjut ke Sholawat Nariyah.
Nah, ini nih yang bikin kegiatan ini punya “latar belakang kuat”. Selama ini, tiap jam Zuhur datang, yang rame justru kantin. Kelas berubah jadi tempat rebahan massal. Mushola? Shafnya masih bisa diitung.
Dan sekolah kelihatannya mulai capek ngasih toleransi.
Jadi daripada cuma diomongin, sekarang dibiasakan.
Dipaksa? Bisa jadi.
Didisiplinkan? Iya, jelas.
Lapangan basket sore itu jadi saksi. Ada yang berkeringat, ada yang manyun, ada yang mulai sadar kalau ternyata sekolah lagi serius ngerubah kebiasaan.
Mungkin pulangnya badan bau matahari.
Mungkin hati masih ngedumel.
Tapi pelan-pelan, hal-hal kayak gini yang ngebentuk ritme:
datang tepat waktu,
hafal lagu sekolah,
nggak lari dari kewajiban,
dan tahu kapan harus berdiri bareng-bareng.
Karena di SMK Putra Bangsa, pelajaran itu nggak cuma ada di lembar soal.
Kadang, pelajaran justru datang setelah ujian selesai—di bawah panas, di lapangan, dengan Mars sekolah yang terus diulang sampai akhirnya nempel di kepala.

