Kalau kamu pernah ikut LDK di sekolah dan harus menginap semalaman, pasti tahu rasanya.
Siang sekolah terasa biasa aja.
Tapi begitu jam menunjukkan lewat pukul sembilan malam, lorong yang biasanya ramai berubah sunyi. Suara kipas angin terdengar lebih keras. Cahaya lampu kelas mulai berkedip. Bahkan suara sandal yang menyeret lantai pun bisa bikin jantung berdegup lebih cepat.
Aku dulu juga berpikir cerita-cerita horor sekolah cuma bumbu dari kakak kelas.
Sampai aku kenal Mira.
Mira adalah murid pindahan dari luar Kalimantan. Dia masuk saat semester sudah berjalan beberapa minggu. Sejak hari pertama, dia selalu duduk di bangku paling belakang dekat jendela.
Dia hampir tidak pernah berbicara.
Kalau guru bertanya, jawabannya pendek.
Kalau jam istirahat, dia tetap duduk sendiri sambil memandang keluar jendela, seolah sedang memperhatikan seseorang yang tidak bisa kami lihat.
Awalnya kami mengira dia hanya pemalu.
Tapi lama-kelamaan, ada hal-hal yang membuat semua orang mulai menjaga jarak.
Beberapa teman mengaku pernah melihat Mira berbicara sendiri ketika kelas sudah kosong.
Bibirnya bergerak pelan.
Sesekali dia mengangguk.
Seolah ada seseorang yang sedang mengajaknya mengobrol.
Yang lebih aneh lagi, beberapa kali saat upacara atau pelajaran berlangsung, Mira tiba-tiba pingsan.
Katanya kesurupan.
Waktu itu kami hanya mendengar cerita dari guru dan petugas UKS.
Mereka bilang suara Mira berubah. Bukan suara remaja perempuan seperti biasanya, melainkan suara berat yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
Anehnya, setelah sadar, Mira selalu terlihat kebingungan.
Dia tidak pernah ingat apa yang terjadi.
Semakin lama, semakin banyak gosip bermunculan.
Ada yang bilang dia punya "teman" yang selalu ikut ke mana pun dia pergi.
Ada juga yang bilang jangan pernah memanggil namanya ketika matahari mulai tenggelam.
Aku tidak percaya.
Sampai malam LDK itu.
Sekolah kami mengadakan LDK selama dua hari satu malam.
Setelah sesi materi selesai, sekitar pukul sebelas malam, panitia membolehkan peserta beristirahat.
Sebagian tidur di ruang kelas gedung C.
Sebagian lagi duduk-duduk di teras sambil bercerita.
Aku dan tiga temanku memutuskan mencari udara segar.
Kami berjalan melewati koridor menuju mushola.
Di samping mushola ada toilet lama yang sudah jarang dipakai.
Lampunya redup.
Cat temboknya mulai mengelupas.
Kalau angin berembus, pintu WC akan terbuka sedikit lalu menutup lagi dengan bunyi pelan.
Saat itulah Rian tiba-tiba menghentikan langkah.
"Eh..."
Dia menunjuk ke arah pojok antara mushola dan WC.
"Ada orang."
Kami ikut melihat.
Benar.
Ada seorang siswi duduk membelakangi kami.
Rambutnya panjang.
Seragam training LDK masih dipakai.
Tubuhnya diam.
Sangat diam.
Aku mengenali sosok itu.
"Mira?"
Tidak ada jawaban.
Kupikir mungkin dia sedang menangis.
Aku melangkah lebih dekat.
Semakin dekat, udara terasa semakin dingin.
Bukan dingin karena angin.
Tapi dingin yang membuat tengkuk terasa berat.
Kulitku mulai merinding.
"Mira..."
Aku memanggil lagi.
Dia tetap diam.
Lalu terdengar suara pelan.
Bukan dari kami.
Bukan juga dari arah mushola.
Melainkan dari tempat Mira duduk.
Suara orang berbisik.
Banyak sekali.
Tumpang tindih.
Seperti puluhan orang berbicara bersamaan, tetapi tidak ada satu kata pun yang bisa dipahami.
Temanku mulai panik.
"Balik aja..."
Tapi entah kenapa aku tetap berdiri.
Aku merasa Mira sedang menunggu seseorang.
Pelan-pelan...
Tubuhnya bergerak.
Bukan menoleh.
Melainkan...
Kepalanya miring perlahan ke arah kanan.
Sampai sudut yang seharusnya tidak mungkin dilakukan manusia.
Jantungku langsung terasa berhenti.
Belum sempat kami bergerak...
Kedua telapak kakinya mulai terangkat.
Perlahan.
Beberapa sentimeter.
Lalu semakin tinggi.
Tubuhnya masih dalam posisi duduk.
Tapi tidak lagi menyentuh lantai.
Dia...
Melayang.
Tidak ada suara.
Tidak ada langkah.
Hanya tubuh pucat itu yang menggantung beberapa puluh sentimeter di atas keramik.
Rian berteriak memanggil namanya.
"MIRAAA!"
Untuk pertama kalinya...
Dia menjawab.
Bukan dengan menoleh.
Melainkan...
Tawa.
Pelan.
"Khh... khh... khh..."
Semakin lama semakin keras.
Tawanya bukan seperti suara perempuan.
Lebih mirip beberapa suara yang tertawa bersamaan.
Saat lampu koridor berkedip satu kali...
Sosok Mira masih ada.
Saat lampu berkedip untuk kedua kalinya...
Dia sudah tidak berada di sana.
Kosong.
Benar-benar kosong.
Yang tersisa hanya suara tawanya yang masih bergema dari arah toilet.
Kami langsung berlari ke aula tanpa berani melihat ke belakang.
Besok paginya kami menceritakan semuanya kepada panitia.
Mereka mengira kami hanya mengarang cerita karena kurang tidur.
Sampai salah satu guru berkata pelan,
"Kalian yakin yang kalian lihat itu Mira?"
Kami mengangguk.
Guru itu langsung terdiam.
Wajahnya berubah pucat.
"Lho... semalam sekitar jam sepuluh, Mira demam tinggi. Dia dijemput orang tuanya dan sudah pulang sebelum kalian keluar aula."
Ruangan mendadak sunyi.
Kalau Mira sudah pulang...
Lalu...
Siapa yang duduk di pojok mushola semalam?
Sejak malam itu, tidak ada lagi siswa yang mau duduk di sudut antara mushola dan WC.
Kalau ada kegiatan malam, semua pasti memilih memutar jalan daripada melewati tempat itu.
Anehnya, setiap tahun selalu ada peserta LDK yang mengaku melihat seorang siswi duduk sendirian di sana.
Kulitnya pucat.
Rambutnya menutupi wajah.
Memakai seragam sekolah.
Kalau dipanggil...
Dia tidak pernah menjawab.
Dia hanya tertawa pelan.
Dan sebelum menghilang...
Tubuhnya akan perlahan melayang dari lantai.
Sampai hari ini, aku masih sering bertanya-tanya.
Yang kami lihat malam itu...
Benarkah Mira?
Atau...
Ada sesuatu yang sejak awal selalu duduk di bangku paling belakang...
menunggu seseorang menyadari kehadirannya.
