Cantik Itu Boleh. Tapi Kalau Adab Kalah Sama Blush On, Siapa yang Lagi Kita Dandani?

0



Pernah nggak sih kamu merasa akhir-akhir ini sekolah mulai berubah?

Bukan berubah gedungnya.

Bukan berubah seragamnya.


Tapi...

Cara sebagian siswa memaknai kata "berpenampilan."

Datang ke sekolah sekarang kadang rasanya kayak lagi nonton persiapan beauty influencer.

Bel masuk masih lima belas menit lagi, tapi kaca toilet sudah penuh antrean.


Bedak dibuka.

Lip tint keluar.

Blush on mulai diratakan.

Setting spray disemprot.

Kalau ada yang belum selesai dandan, biasanya langsung panik.

"Eh bentar, alis aku belum simetris."

Padahal...

Guru BK sudah dua kali lewat.


Cantik itu salah?

Tentu enggak.

Merawat diri juga bukan sesuatu yang keliru.

Justru menjaga kebersihan, kerapian, dan penampilan yang sopan adalah bagian dari menghargai diri sendiri.

Yang mulai jadi pertanyaan adalah...

Kenapa sekarang tampil menarik kadang terasa lebih penting daripada tampil beradab?


Sekolah atau Beauty Pageant?

Kalau diperhatikan, fenomena ini memang makin sering terlihat.

Blush on merahnya sampai kelihatan dari ujung koridor.

Lipstik lebih mencolok daripada papan pengumuman.

Eyeliner tajamnya mungkin bisa dipakai membelah gorengan kantin.

Bulu mata lentiknya bahkan lebih panjang dari daftar tugas minggu ini.

Belum lagi seragam yang mulai kehilangan fungsi utamanya.

Ada yang ukurannya begitu pas sampai kancingnya terlihat sedang mengikuti ujian ketahanan nasional.

Tas?

Isinya bukan buku.

Tapi pouch makeup.

Buku catatan malah masuknya terakhir.

Ironisnya...

Kalau ditanya kenapa harus seperti itu?

Jawabannya hampir selalu mirip.

"Biar fresh."

"Biar pede."

"Sekarang lagi tren."

Padahal percaya diri dan tampil berlebihan itu dua hal yang berbeda.


Darurat Makeup... atau Darurat Validasi?

Kalimat yang paling sering muncul biasanya begini.

"Aku dandan buat diri sendiri kok."

Kalimat ini memang terdengar bagus.

Dan dalam banyak situasi, bisa saja benar.


Tapi...

Kalau setiap selesai dandan yang pertama dicari adalah kamera depan...

Kalau setiap istirahat yang pertama dilakukan adalah selfie...

Kalau setiap upload selalu berharap jumlah like lebih banyak dari kemarin...

Apa benar semuanya cuma buat diri sendiri?


Atau...

Sedikit banyak memang berharap ada validasi dari orang lain?

Di era media sosial, validasi itu memang terasa candu.

Notifikasi bikin senang.

Komentar bikin percaya diri naik.

Story dilihat banyak orang rasanya puas.


Sayangnya...

Kalau rasa percaya diri mulai bergantung pada komentar orang lain...

Itu bukan lagi percaya diri.

Itu ketergantungan.


"Bu, Ini Fashion."

Ada juga fenomena lain yang nggak kalah menarik.

Ketika guru mengingatkan soal aturan.

Jawabannya sering kreatif.

"Bu, sekarang zamannya begini."

"Ini fashion."

"Influencer juga pakainya begini."

"Kan lagi tren."


Nah...

Di sinilah kadang kita keliru memahami sesuatu.

Mengikuti tren boleh.

Suka fashion juga boleh.


Tapi...

Sekolah bukan panggung fashion show.

Sekolah punya tata tertib.

Dan tata tertib dibuat bukan supaya siswa kelihatan kuno.

Melainkan supaya semua orang belajar dalam lingkungan yang nyaman, rapi, dan saling menghargai.

Banyak orang menganggap aturan itu musuh.

Padahal...

Aturan justru menjaga semua orang tetap berada di jalur yang sama.


Media Sosial Tidak Selalu Layak Ditiru

Hari ini algoritma bekerja sangat cepat.

Sekali lihat video tertentu...

Besok FYP penuh video yang mirip.

Influencer pakai outfit tertentu.

Besok pengin ikut.

Selebgram pakai makeup tertentu.

Besok langsung checkout.

Padahal media sosial tidak pernah bertugas mengajarkan mana yang cocok diterapkan di sekolah.


Yang viral belum tentu benar.

Yang ramai belum tentu pantas.

Yang jutaan penonton belum tentu layak ditiru.

Masalahnya...

Banyak orang mengira jumlah viewers sama dengan kebenaran.

Padahal jelas bukan.


Guru Juga Lagi Belajar Jadi "Guru"

Di sisi lain...

Kita juga sering lupa melihat dari sudut pandang guru.

Hari ini menjadi guru itu nggak mudah.

Guru diminta memahami psikologi remaja.

Harus paham media sosial.

Harus tahu tren.

Harus sabar.

Harus lembut.

Harus tegas.


Tapi...

Begitu berbicara sedikit keras.

"Guru galak."

Kalau terlalu lembut.

"Guru nggak tegas."

Serba salah.


Padahal saat guru menegur soal makeup berlebihan, seragam yang tidak sesuai aturan, atau aksesoris yang melanggar tata tertib...

Tujuannya bukan ingin mempermalukan.

Apalagi iri.


Guru hanya sedang menjalankan tugasnya.

Karena kalau aturan mulai dinegosiasikan berdasarkan tren...

Lama-lama sekolah kehilangan identitasnya.


Jangan Sampai Adab Kalah Sama Estetika

Kita hidup di zaman ketika semua orang ingin terlihat menarik.

Itu wajar.

Tapi jangan lupa...

Ada sesuatu yang nilainya jauh lebih mahal daripada skincare.

Lebih mahal daripada parfum.

Lebih mahal daripada makeup.

Namanya...

Adab.


Karena orang mungkin akan lupa warna lipstik yang kamu pakai hari ini.

Orang juga mungkin lupa outfit yang kamu kenakan minggu lalu.

Tapi orang akan selalu ingat...

Bagaimana caramu menghormati guru.

Bagaimana caramu berbicara.

Bagaimana caramu bersikap.

Dan bagaimana caramu memperlakukan orang lain.

Cantik memang menyenangkan dilihat.

Tapi sopan selalu menyenangkan dirasakan.


Percaya Diri Itu Bukan Soal Makeup

Percaya diri yang sehat lahir dari kemampuan.

Dari prestasi.

Dari akhlak.

Dari cara berpikir.

Bukan semata-mata dari blush on yang on point atau eyeliner yang simetris.

Karena suatu hari nanti...

Makeup pasti luntur.

Fashion pasti berganti.

Tren pasti lewat.

Tapi karakter akan tetap tinggal.

Jadi sebelum sibuk bertanya...

"Foundation-ku sudah rata belum ya?"

Mungkin sesekali kita juga perlu bertanya...

"Hari ini sikapku sudah cukup baik belum ya?"


Karena pada akhirnya...

Sekolah memang tempat belajar.

Bukan tempat mencari siapa yang paling cantik.

Melainkan tempat belajar menjadi manusia yang kelak pantas dihormati, bukan hanya dipuji.

  • Lebih baru

    Cantik Itu Boleh. Tapi Kalau Adab Kalah Sama Blush On, Siapa yang Lagi Kita Dandani?

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default