Mengantar Arwah Ke Sekolah

0



Kalau kamu pernah tinggal di Teluk Pandan, kamu pasti tahu satu hal.

Kalau ingin sekolah atau bekerja di Kota Bontang, kamu harus berangkat saat langit masih gelap.


Begitu juga dengan Abdul.

Rumahnya berada di Teluk Pandan. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju sebuah SMK di Kota Bontang.


Jam empat lewat empat puluh lima.

Alarm berbunyi.

Udara masih dingin.

Embun masih menempel di dedaunan.

Bahkan ayam pun belum semuanya berkokok.


Setelah salat Subuh, Abdul langsung mengenakan seragam putih abu-abunya, menyalakan motor, lalu melaju membelah jalan yang masih gelap.

Lampu motor menjadi satu-satunya penerang di tengah jalan yang sepi.

Kalau sedang beruntung, ia hanya berpapasan dengan truk pengangkut sawit atau bus karyawan yang melaju menuju kawasan industri.


Namun ada satu hal yang selalu membuatnya penasaran.

Setiap melewati Bundaran Sintuk, sekitar pukul lima lewat sepuluh pagi...

Selalu ada seorang anak SD.

Anak laki-laki.

Seragamnya putih merah.

Sepatunya hitam.

Topinya sedikit miring.

Tas biru tua digendong di punggung.

Ia berjalan pelan di trotoar mengarah ke Kota Bontang.

Setiap hari.

Selalu sendirian.


Awalnya Abdul mengira anak itu memang berangkat sekolah lebih pagi.

Hari berikutnya, ia melihat lagi.

Hari berikutnya lagi.

Masih sama.

Posisi jalannya hampir tidak pernah berubah.


Yang membuat Abdul heran...

Seragam anak itu tidak pernah berbeda.

Masih terlihat bersih.

Masih sama persis.

Bahkan lipatan bajunya seperti tidak pernah berubah.

"Rajin juga ya, bocah."

Begitu pikir Abdul.


Lama-kelamaan, rasa iba mulai muncul.

"Masa anak sekecil itu jalan kaki terus?"

Suatu pagi, Abdul memperlambat motornya.


"Dek..."

Anak itu berhenti berjalan.

"Ke kota ya?"

Anak itu mengangguk pelan.

"Sini... naik aja."


Perlahan anak itu naik ke jok belakang.

Tubuhnya ringan sekali.

Hampir tidak terasa seperti ada orang yang sedang dibonceng.

Perjalanan berlangsung tanpa percakapan.


Sesampainya di dekat simpang menuju sekolah dasar, anak itu turun.

Sebelum pergi, ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil yang dibalut daun pisang.


"Ini buat Kak Abdul."

"Lho... buat apa?"


Anak itu hanya tersenyum.

Lalu berlari masuk ke jalan kecil.

Abdul membuka bungkusan itu di sekolah.


Isinya jajanan pasar.

Kue cucur.

Lemper.

Klepon.

Masih hangat.

"Eh, dul... dari mana kuenya?"

"Anak SD yang aku bonceng."

"Wah... bagi dong."


Sejak saat itu, hampir setiap pagi Abdul memberikan tumpangan.

Dan setiap pagi pula...


Anak itu selalu memberikan bungkusan berisi jajanan tradisional.

Tidak pernah gagal.

Tidak pernah terlambat.

Teman-temannya bahkan mulai bercanda.


"Besok bonceng lagi ya. Lumayan sarapan gratis."


Abdul hanya tertawa.


Sampai suatu hari...

Abdul sedang tidak lapar.

Bungkusan kue itu tidak dimakan.

Ia membawanya pulang.

Saat membuka tas, ibunya melihat bungkusan daun pisang di dalamnya.


"Itu apa?"

"Kue."

"Dari siapa?"

"Anak SD yang sering aku bonceng tiap subuh."


Ibunya tersenyum kecil.

"Anaknya tinggal mana?"

"Nggak tahu. Aku ketemunya di Bundaran Sintuk."


Senyum itu langsung hilang.

Wajah ibunya berubah.

Tangannya yang memegang bungkusan mulai gemetar.


"Bundaran... Sintuk?"

"Iya."


Ibunya menarik tangan Abdul agar duduk di sampingnya.

Raut wajahnya pucat.

Seolah baru saja melihat sesuatu yang sangat menakutkan.


"Dul..."

"Kamu yakin setiap hari ketemu anak itu?"

"Iya."

"Seragamnya putih merah?"

"Iya."

"Topinya miring?"

"Iya."


Ibunya memejamkan mata.

Lalu berkata dengan suara lirih.


"Tiga belas tahun yang lalu..."

"Di Bundaran Sintuk pernah terjadi kecelakaan beruntun."


Cerita Ibu...

Pagi itu masih gelap.

Seorang anak SD berjalan kaki menuju sekolah.

Saat berjalan di trotoar...

Angin kencang menerbangkan topinya ke tengah jalan.

Anak itu berlari mengambil topi.


Di saat bersamaan...

Seorang pengendara motor yang sedang terburu-buru berangkat kerja melaju cukup kencang.

Ia kaget melihat anak kecil di depannya.

Rem dikunci.

Ban menggesek aspal.

Motor terjatuh.

Pengendara di belakang ikut mengerem mendadak.


Satu motor.

Dua motor.

Tiga motor.

Semuanya saling bertabrakan.

Belum sempat mereka berdiri...


Dari belakang datang sebuah bus karyawan.

Jaraknya terlalu dekat.

Bus itu tidak sempat berhenti.

Suara benturan memenuhi jalan.

Pagi itu berubah menjadi kepanikan.


Kecelakaan tersebut menjadi pembicaraan warga selama berbulan-bulan.

Korbannya banyak.

Dan anak SD itu...

Tidak sempat diselamatkan.

Ibu menatap Abdul.


"Warga bilang... sejak kejadian itu kadang masih ada yang melihat seorang anak SD berjalan sendirian di Bundaran Sintuk."

"Tapi semua orang memilih pura-pura tidak melihat."

"Mereka cuma berdoa dalam hati... lalu mempercepat kendaraan."


Abdul menelan ludah.

Dadanya terasa sesak.

Ia bergumam pelan.

"...pantas..."

"...setiap hari bajunya selalu sama."


Malam itu Abdul tidak bisa tidur.

Setiap memejamkan mata...

Ia teringat senyum anak kecil itu.

Bukan senyum menyeramkan.

Justru senyum yang sangat polos.

Seolah benar-benar hanya ingin berangkat sekolah.


Pukul dua dini hari.

Abdul terbangun.

Entah kenapa.

Rumah terasa sangat sunyi.


Lalu...

Tok...

Ada suara ketukan di jendela kamarnya.

Pelan.

Tok... Tok... Tok...


Abdul membuka tirai sedikit.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya halaman gelap.


Saat hendak menutup tirai...

Matanya menangkap sesuatu.

Di pinggir jalan depan rumah.

Di bawah cahaya lampu yang redup.

Seorang anak kecil berdiri sambil menggendong tas.

Seragam putih merah.

Topi miring.

Ia mengangkat tangan kecilnya.

Seperti sedang melambaikan salam.

Jantung Abdul berdegup sangat kencang.

Ia menutup tirai secepat mungkin.


Esok subuh...

Meski masih diliputi rasa takut, Abdul tetap berangkat sekolah.

Saat mendekati Bundaran Sintuk...

Dadanya semakin berdebar.

Ia berharap...

Anak itu tidak ada lagi.


Namun harapannya sia-sia.

Di bawah lampu jalan yang mulai redup...

Anak itu masih berjalan pelan.

Dengan langkah yang sama.

Seragam yang sama.

Tas yang sama.

Abdul menghentikan motor.

Tangannya gemetar.


"Dek..."


Anak itu menoleh.

Untuk pertama kalinya...

Abdul melihat wajahnya dengan jelas.


Wajah yang pucat.

Bibir kebiruan.

Di sisi kanan pelipisnya ada luka memanjang yang menghitam.

Tetapi matanya...

Masih seteduh mata anak kecil.


"Kak..."

"Kenapa semua orang sekarang nggak pernah mau berhenti?"


Abdul tidak mampu menjawab.

Air matanya perlahan jatuh.

Anak itu tersenyum.


"Aku cuma pengin sekolah..."


Kalimat itu membuat dada Abdul seperti diremas.

Ia menoleh sebentar ke arah jalan.

Saat menoleh kembali...

Anak itu sudah tidak ada.

Yang tersisa hanya...

Sebuah topi SD putih merah.

Tergeletak tepat di tepi trotoar.


Abdul turun.

Mengambil topi itu.

Masih bersih.

Masih utuh.

Ia membawanya ke sekolah.

Namun saat jam pulang...


Topi itu telah berubah menjadi selembar daun pisang yang membungkus tiga buah klepon.

Di bagian dalam daun itu, ada tulisan kecil yang seolah digores oleh tangan mungil.

"Terima kasih sudah mengantarku sekolah, Kak."

 

Sejak hari itu...

Abdul tidak pernah lagi melihat anak SD tersebut.


Namun setiap kali melintasi Bundaran Sintuk menjelang subuh...

Ia selalu mengurangi kecepatan motornya.

Mengucapkan doa pelan.

Lalu melanjutkan perjalanan.

Karena ia percaya...

Ada beberapa penumpang yang tidak bisa kita lihat.

Dan ada beberapa perpisahan...

Yang bahkan tidak pernah sempat terjadi.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default