Pernah nggak sih kamu ngebayangin gimana ribetnya dengerin lagu sebelum ada Spotify, YouTube Music, Apple Music, atau aplikasi-aplikasi streaming lain? Sekarang mah tinggal buka HP, ketik judul lagu, pencet play, selesai. Mau lagu galau, lagu buat olahraga, lagu buat nyuci piring, semua ada.
Lah dulu?
Dulu kalau pengen denger lagu favorit tuh perjuangannya hampir setara nunggu gebetan bales chat. Bedanya, zaman itu belum ada chat.
Anak-anak sekarang mungkin bakal bingung kalau disuruh muter kaset. Bahkan ada yang ngira CD itu tatakan gelas. Padahal, generasi kakak-kakaknya dulu rela nabung berminggu-minggu cuma buat beli satu album original.
Nah, biar nggak cuma tahu musik dari playlist viral TikTok, yuk kenalan lagi sama lima alat pemutar musik yang pernah berjaya di zamannya!
1. Walkman, Sultan Musik Tahun 90-an
Kalau sekarang orang keren karena pakai earbuds wireless, dulu orang paling keren itu yang jalan sambil bawa Walkman di pinggang.
Masalahnya, Walkman ini pakainya kaset.
Jadi kalau mau ganti lagu? Ya... ganti kaset.
Kalau kasetnya kusut?
Siap-siap cari pensil.
Iya, pensil.
Karena pensil adalah "teknisi resmi" buat menggulung pita kaset yang keluar. Generasi sekarang mungkin mikir, "Ngapain muter kaset pakai pensil?" Ya begitulah teknologi dulu. Aneh, tapi semua orang paham.
2. Tape Recorder, Raja Ruang Tamu
Suaranya bisa kedengeran sampai rumah tetangga.
Biasanya alat ini nongkrong manis di ruang tamu sambil muterin lagu Rhoma Irama, Dewa 19, Peterpan, atau Sheila On 7.
Yang paling seru?
Nekan tombol RECORD.
Dulu banyak yang pura-pura jadi penyiar radio. Begitu lagu favorit diputer di radio...
"Shhh... jangan berisik! Mau ngerekam!"
Eh pas lagunya lagi enak-enaknya...
"PENDENGAR SETIAAA...!"
Yaudah. Suara penyiar radio ikut ke-record.
3. Discman, CD Jadi Simbol Anak Gaul
Setelah kaset mulai ditinggal, muncullah Discman.
Bentuknya bulat, mengkilap, dan bikin pemiliknya langsung naik level jadi "anak kekinian."
Tapi ada satu kelemahannya.
Nggak boleh banyak goyang.
Naik motor sambil bawa Discman?
Lagu favoritmu bakal berubah jadi remix karena suaranya loncat-loncat.
"Ku... ci... ta... ka... mu..."
Bukan efek DJ. Emang CD-nya keguncang.
4. MP3 Player, Muat Ratusan Lagu Dalam Kantong
Ini mulai masuk era yang lebih modern.
Ukurannya kecil.
Enteng.
Bisa masuk saku.
Yang bikin semua orang takjub waktu itu adalah...
"Satu alat bisa nyimpen ratusan lagu!"
Padahal sekarang HP bisa nyimpen puluhan ribu lagu plus ribuan foto makanan yang nggak pernah dilihat lagi.
Isi MP3 Player dulu juga penuh perjuangan.
Download lagu satu-satu di warnet.
Nunggu selesai.
Terus dipindah pakai kabel data.
Kalau salah download?
Eh ternyata remix DJ jedag-jedug.
Ya udah... dengerin aja.
5. iPod, Barang Mewah Anak Sultan
Kalau MP3 Player itu anak hits, iPod adalah bosnya.
Desainnya elegan.
Layarnya keren.
Scroll wheel-nya bikin semua orang pengen muter-muter walaupun nggak lagi milih lagu.
Dulu kalau ada teman bawa iPod ke sekolah, otomatis jadi pusat perhatian.
Bukan karena sombong.
Tapi karena semua pengen pinjam.
"Bro, boleh dengerin bentar?"
"Bentar ya..."
Yang bentar itu kadang sampai pulang sekolah.
Sekarang Tinggal Klik. Dulu Penuh Perjuangan.
Kalau dipikir-pikir, teknologi memang bikin semuanya jadi jauh lebih praktis. Sekarang mau denger lagu cukup buka HP. Bahkan sambil rebahan, sambil makan, sambil ngerjain tugas, semuanya bisa.
Tapi justru karena dulu serba ribet, rasanya jadi lebih berkesan.
Ada sensasi nunggu kaset diputer.
Ada deg-degan takut CD lecet.
Ada perjuangan download lagu di warnet.
Ada juga momen rebutan speaker Bluetooth... eh, maaf, dulu belum ada speaker Bluetooth.
Mungkin alat pemutarnya memang kalah canggih dibanding sekarang. Tapi satu hal yang nggak berubah adalah musik selalu punya cara buat bikin kita senyum, nostalgia, bahkan tiba-tiba inget seseorang yang udah lama nggak ketemu.
Kalau kamu lahir di era Walkman, Discman, atau MP3 Player, selamat! Berarti kamu pernah merasakan serunya menikmati musik sebelum semuanya tinggal satu klik. Dan kalau kamu baru kenal alat-alat ini dari artikel ini... tenang aja. Yang penting jangan sampai suatu hari nanti kamu nanya, "Kaset itu coloknya di mana?"