Kisah Inspiratif Zahria: Berawal dari Nonton YouTube, Kini Jadi MUA Berbakat Penuh Prestasi!

0


Kalau ada yang bilang hobi cuma buang-buang waktu, mungkin mereka belum kenal sama Irdana Nur Zahria Ramadhani.

Siswi kelas X TKJ SMK Putra Bangsa yang akrab disapa Zahria ini punya hobi yang nggak cuma bikin senang, tapi juga menghasilkan. Di usia yang masih belasan tahun, ia sudah dikenal sebagai Makeup Artist (MUA) dan pernah merias berbagai macam klien. Mulai dari model, pengantin, figur publik, artis, sampai... orang asing alias bule.

Iya, kamu nggak salah baca.

Sementara sebagian anak seusianya masih sibuk bingung milih filter Instagram, Zahria justru sibuk memilih shade foundation yang cocok buat kliennya.


Semua Berawal dari Bocah Umur 5 Tahun

Kalau ditanya kapan pertama kali suka makeup, jawabannya bikin geleng-geleng kepala.

Lima tahun.

Di umur segitu, kebanyakan anak lain masih rebutan mainan atau nangis karena es krim jatuh. Tapi Zahria malah mulai jatuh cinta sama dunia makeup.

Awalnya sederhana.

Ia sering menonton video beauty creator Tasya Farasya. Dari situ rasa penasarannya muncul. Lama-lama bukan cuma nonton, tapi ikut belajar. Mulai mengenal kuas, bedak, foundation, sampai teknik blending yang bahkan orang dewasa pun kadang masih bingung.

Dari sekadar penasaran, akhirnya berubah jadi hobi.

Dan dari hobi... berubah jadi profesi.


Kliennya Bukan Main-Main

Kalau dengar kata MUA remaja, mungkin yang terbayang cuma merias teman sendiri buat wisuda atau acara sekolah.

Zahria beda cerita.

Ia sudah dipercaya menangani berbagai jenis klien.

Ada pengantin.

Ada model.

Ada figur publik.

Ada artis.

Bahkan...

Ada klien dari luar negeri.

Nah, bagian ini yang paling menarik.

Merias wajah mungkin sudah jadi makanan sehari-hari buat Zahria. Tapi ketika kliennya warga negara asing, tantangannya bukan lagi soal alis atau eyeliner.

Melainkan...

Bahasa Inggris.

Mau nggak mau, komunikasi harus tetap jalan. Mulai dari menanyakan konsep makeup, warna yang diinginkan, sampai memastikan klien nyaman selama proses merias.

Dan justru pengalaman itulah yang sampai sekarang paling ia ingat.

Karena ternyata menjadi MUA bukan cuma soal bisa makeup.

Tapi juga soal bagaimana membuat orang lain merasa nyaman.


Yang Paling Sulit Kadang Bukan Makeup-nya

Banyak orang mengira pekerjaan seorang MUA itu enak.

Datang.

Makeup.

Foto.

Pulang.

Padahal kenyataannya nggak sesimpel itu.

Menurut Zahria, tantangan terbesar justru sering datang dari... klien.

Ada yang baru duduk sudah mulai protes.

Ada yang alisnya belum jadi tapi sudah minta dihapus.

Ada juga yang malah ketiduran saat dirias.

Bayangin lagi bikin eyeliner tipis-tipis, eh kepala klien tiba-tiba miring karena tidur.

Auto deg-degan.

Untungnya, Zahria punya prinsip yang selalu ia pegang.

Jangan egois. Jangan gampang emosi.

Karena menurutnya, kalau MUA ikut terpancing emosi, hasil makeup biasanya ikut berantakan.

Selain itu, rasa bosan juga pasti pernah datang.

Apalagi kalau jadwal sedang padat.

Tapi setiap kali mulai lelah, ia selalu mengingat satu hal sederhana.

"Aku suka melakukan ini."

Kalau pekerjaan sudah terasa seperti hobi, capeknya memang tetap ada.

Tapi rasanya beda.


Masih Terus Belajar

Meski sekarang sudah punya banyak pengalaman, Zahria merasa dirinya masih harus terus berkembang.

Selain Tasya Farasya yang pertama kali membuatnya jatuh cinta pada dunia makeup, ada satu nama lagi yang menjadi inspirasinya, yaitu Hanum Mega.

Sejak kecil, ia mengagumi konsistensi Hanum di dunia kecantikan.

Sementara untuk mengikuti tren makeup terbaru, Zahria rajin mencari referensi lewat TikTok dan YouTube.

Karena di dunia beauty, tren berubah secepat pergantian lagu viral.

Hari ini lagi demam clean makeup.

Besok sudah muncul tren baru lagi.

Makanya, seorang MUA harus terus belajar supaya nggak ketinggalan zaman.


Lawannya Om dan Tante, Pulangnya Bawa Juara

Puncak dari semua kerja keras itu akhirnya datang lewat sebuah kompetisi makeup.

Yang bikin keren bukan cuma karena Zahria menang.

Tapi karena peserta lain rata-rata berusia 30 tahun ke atas.

Sementara Zahria?

Masih duduk di bangku sekolah.

Meski jadi peserta paling muda, ia berhasil membuktikan kalau kemampuan tidak selalu ditentukan oleh umur.

Hasilnya...

Juara 1 berhasil dibawa pulang.

Prestasi itu menjadi bukti bahwa jam terbang, latihan, dan konsistensi bisa mengalahkan rasa minder.


Hobi Itu Nggak Selalu Harus Berakhir Jadi Hobi

Banyak orang masih menganggap hobi cuma aktivitas buat mengisi waktu luang.

Padahal kalau ditekuni dengan serius, hobi bisa berubah menjadi profesi.

Bisa menghasilkan.

Bahkan bisa membuka jalan menuju prestasi.

Kisah Zahria menjadi bukti nyata kalau usia muda bukan alasan untuk menunggu sukses.

Selama mau belajar, konsisten, dan nggak gampang menyerah, kesempatan akan datang dengan sendirinya.

Siapa tahu hari ini kamu cuma iseng belajar desain.

Besok malah jadi desainer.

Hari ini cuma iseng bikin video.

Besok malah jadi sutradara.

Atau mungkin hari ini masih sering makeup-in teman sendiri.

Eh, beberapa tahun lagi antrean klienmu sudah penuh sampai harus booking berminggu-minggu.

Karena pada akhirnya, mimpi besar sering kali dimulai dari hal kecil yang kita lakukan berulang-ulang.

Dan Zahria sudah membuktikan itu.


  • Lebih baru

    Kisah Inspiratif Zahria: Berawal dari Nonton YouTube, Kini Jadi MUA Berbakat Penuh Prestasi!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default