Teman Bayangan di Ujung Kelas

0





Ada satu murid baru yang membuat hampir seluruh kelas merasa tidak nyaman.

Namanya Raka.

Ia pindahan dari luar kota. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan hampir tidak pernah tersenyum. Di kelas, ia selalu memilih bangku paling belakang dekat jendela.

Tidak ada yang benar-benar mengenalnya.

Yang membuat teman-teman mulai takut bukan karena sikap pendiamnya.

Melainkan kebiasaannya berbicara sendiri.

Awalnya semua mengira Raka sedang menghafal pelajaran.

Namun suatu siang, saat kelas kosong, Dimas kembali mengambil botol minumnya yang tertinggal.

Dari balik pintu, ia melihat Raka sedang menoleh ke kursi kosong di sampingnya.

"...iya... nanti saja."

Raka berhenti sejenak.

Lalu mengangguk pelan.

"Iya... aku dengar."

Padahal kursi di sampingnya kosong.

Sejak saat itu, gosip mulai menyebar.

Ada yang mengatakan Raka memiliki teman yang tidak terlihat.

Ada pula yang bercanda bahwa ia sedang berbicara dengan "qorin"-nya.

Tidak ada yang tahu pasti.

Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan kegiatan menginap.

Sekitar pukul satu dini hari, listrik padam selama beberapa menit.

Semua siswa berkumpul di aula.

Namun saat panitia menghitung jumlah peserta, satu orang tidak ada.

Raka.

Guru dan panitia segera mencarinya.

Mereka menemukannya berdiri sendirian di depan ruang kelas.

Ia menghadap jendela yang gelap.

Tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

"Raka..."

Tidak ada jawaban.

Saat salah seorang guru menyentuh bahunya, Raka perlahan menoleh.

Wajahnya tampak bingung.

"Lho... Bapak juga lihat dia?"

Guru itu terdiam.

"Lihat siapa?"

Raka menunjuk ke arah pantulan jendela.

"Yang berdiri di belakang saya."

Semua orang langsung melihat ke arah kaca.

Yang terlihat hanyalah pantulan mereka sendiri.

Tidak ada siapa-siapa.

Raka tersenyum kecil.

"Dia bilang... dari kecil dia selalu ikut saya."

Malam itu guru membawa Raka kembali ke aula.

Tidak ada kejadian aneh lagi.

Esok paginya, Raka meminta maaf kepada semua orang.

Katanya, sejak kecil ia sering merasa seperti ada seseorang yang selalu mengikutinya.

Tetapi setiap kali ia menoleh...

Tidak pernah ada siapa pun.

Beberapa bulan kemudian, Raka pindah sekolah lagi mengikuti pekerjaan orang tuanya.

Namun hingga sekarang, bangku paling belakang dekat jendela hampir tidak pernah dipilih siswa lain.

Bukan karena mereka takut kepada Raka.

Melainkan karena beberapa siswa mengaku pernah melihat sesuatu yang aneh.

Saat matahari mulai tenggelam, pantulan di kaca jendela kadang terlihat berbeda.

Mereka melihat seorang siswa sedang duduk sendirian.

Padahal jika menoleh ke arah bangku itu...

Bangkunya kosong.

Mungkin hanya pantulan cahaya.

Atau mungkin...

Tidak semua bayangan benar-benar milik kita.
  • Lebih baru

    Teman Bayangan di Ujung Kelas

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default