Pernah nggak sih kamu lihat drama percintaan di sekolah yang rumitnya udah kayak sinetron 500 episode? Yang satu ngejar, yang dikejar malah kabur. Yang ngejar diam-diam, eh ternyata ada orang lain yang lagi ngejar dia juga. Pokoknya kalau dijelasin pakai bagan mungkin lebih ribet daripada silsilah keluarga di film kerajaan.
Kalau belum pernah lihat, berarti kamu kurang nongkrong di kantin. Atau jangan-jangan... kamu pemeran utamanya?
Nah, sebut saja ada seorang cowok bernama Aceng. Anak ini sebenarnya biasa aja. Nggak terkenal banget, tapi juga nggak asing. Kalau lewat koridor sekolah ya ada aja temennya yang nyapa.
"Ngeng, nanti futsal ya!"
"Iya, bentar."
Standar anak sekolah lah pokoknya.
Masalah mulai muncul waktu Aceng jatuh hati sama seorang cewek. Sebut saja namanya Tika.
Katanya sih suka karena Tika kalem, baik, rajin, terus kalau senyum bikin Aceng mendadak lupa rumus fisika. (Padahal dari awal juga emang nggak hafal.)
Mulailah berbagai usaha dilakukan.
Lewat depan kelas Tika? Sering.
Ikut kegiatan yang ada Tikanya? Gas.
Bahkan kalau Tika kebetulan lewat, Aceng mendadak pura-pura sibuk ngobrol sama temannya.
"Bro, menurutmu teori relativitas Einstein..."
Padahal lima menit sebelumnya masih debat ranking Mobile Legends.
Sayangnya...
Semesta ternyata lagi iseng.
Karena Tika... nggak suka Aceng.
Bukan benci juga sih. Cuma ya... biasa aja.
Kalau Aceng senyum, Tika balas senyum.
Kalau Aceng nyapa, Tika jawab.
Udah.
Nggak ada bunga-bunga bermekaran.
Nggak ada soundtrack romantis.
Yang ada cuma Aceng pulang sambil mikir, "Kayaknya tadi dia senyum lebih lebar deh."
Padahal mungkin Tika cuma lagi ingat kalau besok kantin jual mi ayam.
Plot twist belum selesai.
Karena ternyata...
Sahabat dekat Tika yang bernama Munah justru diam-diam suka sama Aceng.
Nah lho.
Munah ini tipikal teman yang selalu ada.
Aceng pinjam pulpen? Dipinjamin.
Aceng lupa bawa penggaris? Dipinjamin.
Aceng butuh catatan? Langsung difotoin.
Pokoknya perhatian banget.
Masalahnya...
Aceng menganggap semua itu cuma bentuk pertemanan.
Alias... friendzone premium.
Kalau Munah berharap dapat ucapan "Aku juga suka sama kamu."
Yang keluar malah...
"Makasih ya, kamu emang sahabat terbaik."
DUARRR.
Kalimat yang sanggup membuat harapan runtuh dalam hitungan detik.
Yang bikin tambah lucu, Tika sama sekali nggak tahu kalau Munah suka sama Aceng.
Sementara Aceng juga nggak tahu kalau Munah lagi berharap lebih.
Sedangkan teman-teman sekelas?
Wah... mereka justru tahu semuanya.
Entah kenapa gosip di sekolah itu kecepatannya kadang lebih ngebut daripada WiFi.
Belum juga jam istirahat.
Satu kelas udah tahu.
Besok paginya...
Satu angkatan.
Lusa...
Satpam aja mungkin udah dengar.
Makanya jangan heran kalau tiba-tiba ada teman nyeletuk,
"Cieeee Aceng..."
Padahal Aceng cuma lagi jalan menuju toilet.
Drama beginian sebenarnya bukan hal baru di masa sekolah.
Ada yang cintanya berbalas.
Ada yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
Ada juga yang lebih tragis.
Belum sempat nembak, gebetannya udah jadian sama orang lain.
Rasanya kayak baru isi bensin full, eh motornya dipinjam kakak seminggu.
Sakit... tapi ya mau gimana.
Yang sering dilupakan, suka sama seseorang itu nggak pernah bisa dipaksa.
Aceng nggak bisa maksa Tika buat suka.
Munah juga nggak bisa maksa Aceng buat membalas perasaannya.
Karena hati itu bukan formulir Google yang tinggal klik "Setuju".
Setiap orang punya pilihan.
Dan itu harus dihargai.
Kalau memang ditolak?
Ya sedih itu wajar.
Kecewa juga manusiawi.
Tapi jangan sampai berubah jadi marah, apalagi memaksa. Karena cinta yang dipaksakan biasanya lebih cocok jadi judul lagu daripada dijalani.
Lagipula, masa sekolah itu terlalu seru kalau cuma dihabiskan buat galau.
Masih ada tugas yang belum dikerjakan.
Masih ada ulangan dadakan yang bikin jantung pindah ke lutut.
Masih ada teman-teman yang bakal jadi kenangan bertahun-tahun nanti.
Siapa tahu, beberapa tahun ke depan Aceng malah ketawa sendiri waktu ingat perjuangannya ngejar Tika.
Munah juga mungkin sudah menemukan orang yang benar-benar menghargai perasaannya.
Sedangkan Tika... ya semoga tetap bahagia dengan pilihannya.
Karena pada akhirnya, kisah cinta anak sekolah memang sering rumit.
Tapi justru karena kerumitan itulah, nanti ketika sudah lulus, cerita-cerita receh seperti ini yang paling sering bikin senyum sendiri sambil bilang,
"Ya ampun... dulu kok bisa ya aku segitu bucinnya?"
